Budaya Tanimbar sebagai Jendela Melihat Kekayaan Budaya dan Alam Tanimbar Serta Menjadi Anak Tangga Menuju Pendidikan Tinggi
Indonesia sebagai bangsa yang besar, sudah tentu memiliki kekayaan Alam dan Keanekaragaman budaya. Hal ini sudah ada sejak lama, dan masih ada sampai sekarang. Arti Budaya menurut KBBI adalah pikiran,akal budi, hasil, adat istiadat,, atau sesuatu yang sukar di ubah. Dengan kata lain budaya adalah sesuatu hal yang mengacu pada pola-pola kompleks dari perilaku, kepercayaan, instuisi, seni, dan lain-lain yang di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam suatu kelompok atau masyarakat tertentu.
Sebagai negara berkepulauan, pastinya perairan yang luas membatasi antara satu pulau dan pulau yang lain. Ini juga mempengaruhi adanya perbedaan budaya satu daerah dengan daerah yang lain, demikian pula kekayaan alamnya. Hal inilah yang mengakibatkan adanya perbedaan budaya Tanimbar dengan budaya daerah yang lain.
Di daerah Tanimbar khususnya pulau Selaru, ada sebuah tradisi di Desa Fursuy yaitu menangkap ikan secara berkelompok. Tradisi ini biasa di sebut "Tarik Tali Kor".Tradisi ini bermula karena, dilihat oleh masyarakat di daerah tersebut bahwa mereka memiliki kekayaan laut yang melimpah,salah satunya ikan. Kebiasaan Tarik Tali Kor sudah ada sejak lama dan dilakukan sampai dengan sekarang. Tarik Tali Kor sendiri, dilakukan dengan menggunakan jaring dan pucuk daun kelapa yang dalam istilah masyarakat setempat disebut "Tombak Kelapa", dan di ikat ke tali yang berukuran panjang. Pucuk daun kelapa di sebut disebut " Tombak Kelapa "karena pucuk daun kelapa yang tersusun rapi ke atas dan membentuk seperti tombak.
Pucuk daun kelapa atau Tombak Kelapa (dalam bahasa masyarakat setempat), di ambil dan di pisahkan antara daun dan batang daun kelapa. Setelah itu, di ikat pada tali yang berukuran panjang dan di lepaskan di laut. Dengan sendirinya ikan-ikan akan seperti terhipnotis dan mengikuti arah daun-daun itu di tarik,dimana para masyarakat setempat menariknya. Setelah di lihat bahwa ikan-ikan tersebut berkumpul dalam satu area, para masyarakat desa Fursuy akan menangkap ikan-ikan tersebut menggunakan jaring. Kebiasaan ini tidak mengganggu dan merusak biota serta habitat laut,walaupun ikan yang di ambil dalam jumlah yang banyak karena, yang di ambil hanyalah ikan yang besar dan tidak di lakukan terus menerus tetapi hanya pada acara-acara tertentu.
Tidak kalah menarik dengan itu, salah satu budaya Tanimbar khususnya pulau Selaru, desa Fursuy lainnya adalah menenun. Salah satu budaya ini sudah ada lama, dan masih ada hingga sekarang. Masyarakat setempat awalnya menggunakan kapas sebagai benang untuk bahan dasar menenun, tetapi adanya perubahan zaman yang mengakibatkan penyediaan benang secara instan. Hal ini yang menyebabkan hingga,kain hasil tenunan dengan menggunakan kapas menjadi kain yang langka di masa sekarang.
Awalnya maksud pembuatan kain tenun ini di buat hanya untuk dijadikan pakaian dengan modif yang sederhana, tetapi karena perkembangan zaman, sehingga para penjahit pakaian kain tenun mengkolaborasikan antara kain tenunan dengan kain hasil produksi perusahaan menjadi sebuah pakaian yang terlihat unik, dan aesthetic. Kain tenun tidak hanya di buat sebagai pakaian, tetapi juga dijahit dan di kolaborasi menggantikan warna sepatu, tas, dan masih banyak hal lagi. Salah satu budaya ini yang membuat Tanimbar banyak dikenal sebagai pulau penghasil kain tenun, bukan hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri.
Jika di daerah lain memiliki tarian, Tanimbar juga memiliki tarian yang tidak kalah saing. Tarian Tanimbar sendiri ada bermacam-macam, salah satunya ada tarian sambutan atau dalam bahasa Yamdena di sebut "Tnabar irla'a". Tarian ini di pakai untuk menyambut orang yang pergi ke Tanimbar. Pada awalnya tarian ini di pakai untuk menyambut semua orang yang baru pertama kali pergi ke daerah setempat, tetapi karena zaman yang semakin berkembang tarian ini hanya di gunakan untuk menyambut orang-orang penting yang pergi ke Tanimbar.
Perkembangan Teknologi semakin berkembang, tetapi Budaya Tanimbar tidak akan hilang. Bukti nyata ialah adanya edukasi bagi masyarakat untuk tetap menajaga habitat laut serta biota laut, dan kemampuan literasi untuk menghasilkan karya-karya tenunan yang baru, serta di hadirkannya salah satu sanggar di Tanimbar yaitu sanggar malisngorar yang mengasah generasi muda Tanimbar untuk juga memiliki daya saing dalam dunia tari.
Dari banyaknya hasil laut salah satunya ikan, dan kreativitas orang Tanimbar-Selaru yaitu tenunan, sehingga para masyarakat setempat menggunakan hal itu sebagai mata pencaharian mereka untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang yang setinggi-tingginya,demi melahirkan generasi orang Tanimbar yang cerdas, bermutu, dan berkreatifitas.

Komentar
Posting Komentar